Selasa, 30 Desember 2014

Analisis Berdasarkan Teori Marvin Zuckerman

Inilah Selfie Terekstrim di Gedung Pencakar Langit

Tren foto diri sendiri atau yang lebih dikenal dengan istilah selfie, saat ini telah menjamur ke seluruh belahan dunia. Alhasil selfie dapat dikatakan sudah menjadi hal biasa, bahkan menyebabkan fungsi dari selfie berubah menjadi tidak semestinya. Seperti kumpulan dari anak muda berikut ini yang memanfaatkan foto selfie demi mendapatkan sensasi belaka.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYCCSt3raM_nzdImWOK-RxKvEUA919fXvlsoncFJvxJ4IkjvWFIBOpiUaEsadAWi_H6vtMEEX1ha89yU8Vf9E3o8NlN8IJQJsYLn82aRn1yALsn1BRLCOQ48w4hCkO9mNOn063YRfUWJZV/s1600/selfie.jpg

Dilansir dari Amusingplanet, Jumat (30/5/2014), pria pemberani asal Rusia, Alexander Remnev bersama teman-temannya membentuk sebuah kelompok yang memburu gedung-gedung tinggi hanya untuk memperoleh foto selfie mereka dari atas ketinggian gedung pencakar langit tersebut.

Hal ini mereka buktikan lewat foto-foto selfie yang mereka ambil dari puncak Dubai Princess Tower yang tingginya mencapai 1.350 kaki dari permukaan tanah, yang cukup menantang dan penuh ketegangan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCJ-PHd42zh0Kgm-I0k7_mn5YxwrSpCCuG3Dx4S7UTLgD4QKuiufKfd-ap_s2S9A7yWNmXDOF-y8lSGO_jlewimDYyqdGiOaULCOdu-YwcBjBGOAjlZ0vy9zIA5xStqTVpsMaC-oWvq1a9/s1600/selfie2.jpg

Jika Anda bayangkan, mereka naik ke atas gedung dengan ketinggian yang memacu adrenalin tanpa seutas tali pengaman. Dan semuanya itu hanya demi kesenangan membuat foto-foto selfie. Tentunya nyawa mereka bisa menjadi taruhannya.

Hal tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka. Mereka berpikir jika mereka akan terlihat hebat karena bisa membuat foto selfie yang tidak semua orang mampu membuatnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilg6EI9GXM7BV8o3g9QZ7Omwb2eXkonFdRvvVzWSrJJeRPOOwBq-SbTnxnqCXceWZdBKX7H5aH0wiP5EoAtMhnyDXo0LZjVP4kQGues5x5S9IFftNr7NuQB7TBnSTjKoonRhunoVdfPedD/s1600/selfie3.jpg

"Kami sangat menyukai Dubai, di sini memang pantas disebut kota pencakar langit. Dan kami akan berusaha untuk naik lebih tinggi lagi semampu kami," kata Alexander.
"Tidak ada hambatan untuk kami bisa naik, karena di Dubai banyak sekali atap yang terbuka, dan itu tidaklah menyulitkan kami." ungkapnya.

Lebih lanjut, Alexander memberi nama kelompok mereka dengan sebutan 'Daredevil' dan itu menjadi kebanggaan bagi mereka yang telah mampu membuktikan bahwa nama kelompok mereka bukan hanya nama belaka.

Memang kelompok Daredevil terlahir dan tumbuh dari sebuah kelompok pencari sensasi di Rusia dan Ukraina yaitu Skywalkers. Mereka memang kelompok-kelompok yang memaksakan diri mereka untuk menembus batas mencari sensasi yang berbahaya.



Marvin Zuckerman: Sensation Seeking
Menurut Zuckerman, sensation seeking dideskripsikan sebagai keinginan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
     
Assessing Sensation Seeking
Untuk mngukur sensation seeking, Zuckerman membentuk Sensation Seeking Scale (SSS), memiliki 40 pertanyaan kuisioner (Tabel 16.2). Dengan menggunakan metode factor analysis, Zuckerman (1983) mengidentifikasikan kedalam empat komponen dari sensation seeking :
1.         Thrill and adventure seeking  keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
2.         Experience seeking  mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu, seni.
3.         Disinhibition  kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar.
4.         Boredom susceptibility.


PEMBAHASAN KASUS BERDASARKAN TEORI

                Berdasarkan teori Marvin Zuckerman, orang orang yang berada pada kasus ini yaitu orang orang yang melakukan selfie secara ekstrim dapat dikatakan memiliki score sensation seeking yang tinggi. Dimana orang-orang ini memiliki karakteristik :
1.       Thrill and adventure seeking : dimana orang orang ini melakukan selfie secara ekstrim dan melibatkan bahaya bagi diri mereka sendiri.
2.       Experience seeking : orang orang ini melakukan selfie yang berbeda dengan orang lain yang sudah mainstream. Dengan mereka melakukan selfie ekstrim ini mereka menjadi senang dan merasa berbeda dengan orang lain.
3.       Disinhibition : orang orang ini melakukan selfie dengan aktivitas yang menurut orang lain ekstrim dan diluar kebiasaan.

4.       Boredom susceptibility : mungkin orang orang ini merasa bosan dengan selfie yang biasa sehingga mereka melakukan selfie yang luar biasa yaitu dengan selfi dari tempat yang mungkin tidak orang lakukan.





ssumber berita : http://www.ositus.com/2014/06/inilah-selfie-terekstrim-di-gedung.html

Minggu, 07 Desember 2014

EVALUASI PERFORMA KREATIVITAS



EVALUASI PERFORMA KREATIVITAS
KELOMPOK 3
“MINIATUR RUMAH COKLAT”


Anggota Kelompok:
v  Ilmi Khoir Purba (131301003) 13003ikp.blogspot.com
v  Arifa Ulia Bahri (131301053) arifauliabahri.blogspot.com
v  Alifia Ridha Pratiwi (131301063) 13063arp.blogspot.com
v  Dinda Sundari (131301089) 13089ds.blogspot.com
v  Syafira Hairy Sani (131301107) 13107shs.bolgspot.com

Mata kuliah kreativitas merupakan mata kuliah penuh tantangan. Suasana kelas dan materi perkuliahan dibuat sedemikian menarik agar esensi kreatif muncul di dalamnya. Hal ini supaya kita senantiasa menggali dan memaksimalkan potensi diri untuk hasil yang baik di kemudian hari. Kita senantiasa dirangsang untuk dapat berpikir dan bertindak secara kreatif dalam berbagai hal, dari yang paling kecil seperti memecahkan masalah sehari-hari sampai kepada munculnya ide-ide kreativitas yang original.
Salah satu tugas yang harus dipenuhi pada mata kuliah kreativitas ini adalah performa kreativitas yang dilakukan secara berkelompok. Kelas dibagi ke dalam sepuluh kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 4-5 orang. Kemudian masing-masing kelompok diharuskan untuk membuat ide kreativitas yang original, yang nanti akan dipresentasikan di kelas dalam wujud performa kreativitas.
Tugas ini terdiri atas tiga bagian:
1.      Posting tentang performa kreativitas dikaitkan dengan teori kreativitas.
2.      Performa kreativitas dalam bentuk presentasi di depan kelas dengan menampilkan performanya.
3.      Evaluasi performa kreativitas setelah selesai menampilkan performa dan mendapat feedback dari dosen pengampu dan teman-teman audience.


A.           Teori tentang proses kreatif dikaitkan dengan performa yang akan ditampilkan kelompok
·         Teori Wallas
Teori Wallas menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap:
1.      Persiapan, yaitu mempersiapkan diri dalam memecahkan permasalahan yang muncul. Pada tahap ini, berbagai ide atau gagasan muncul dan berbeda-beda setiap individunya. Awalnya, ada dua ide muncul dalam kelompok kami, yaitu membuat video dan menampilkan drama.
2.      Inkubasi, yaitu tahap dimana untuk sementara waktu tidak memikirkan masalah yang muncul. Setelah berhasil menemukan beberapa ide, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan membiarkan ide-ide tersebut beku, karena kami juga masih bingung pada saat itu.
3.      Iluminasi, yaitu tahap timbulnya insight atau inspirasi atau gagasan baru. Setelah melewati tahap inkubasi, kami memutuskan untuk berdiskusi lagi karena deadline sudah di depan mata. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat produk dari olahan coklat, yang sebenarnya berbeda jauh dari ide awal kami.
4.      Verifikasi, yaitu tahap evaluasi dimana ide atau gagasan yang ditemukan diuji kerealitasannya. Tahap verifikasi berlangsung tidak lama setelah proses iluminasi, dimana ide atau gagasan yang kami sepakati diperjelas dengan membuat produk olahan coklat yaitu membuat “miniatur rumah coklat”
·         Teori Pemecahan Masalah Menurut Shallcross
Teknik pemecahan masalah secara kreatif yang dikemukakan oleh Shallcross (1985) meliputi lima tahap, yaitu:
1.      Orientasi. Pada tahap ini, masalah dirumuskan atau mulai menentukan tujuan, dalam hal ini adalah karena adanya pemberian tugas dari dosen mata kuliah kreativitas tentang membuat perform dalam kelompok.
2.      Persiapan
Pada tahap persiapan, kami menghimpun semua fakta yang sudah diketahui mengenai masalah dan mulai mengumpulkan data. Karena adanya tugas dari dosen, maka kami mulai mencari ide untuk perform.
3.      Penggagasan
Pada tahap penggagasan, kami mulai menerapkan cara berpikir divergen untuk menghasilkan gagasan sementara pemecahan masalah. Pada tahap ini, mulai memikirkan konsep apa yang ingin dihadirkan dalam perform. Ada tiga ide kami, yaitu membuat video, menampilkan drama, dan membuat produk “miniatur rumah cokelat”.
4.      Penilaian
Pada tahap penilaian, kami menerapkan cara berpikir konvergen, yaitu menyeleksi gagasan yang paling baik untuk dilaksanakan, dengan mempertimbangkan kelayakan dari setiap gagasan, yaitu dengan membuat matriks.
Matriks gagasan dan kriteria penilaian gagasan
Ketentuan penilaian:
5 = baik sekali                         3 = cukup baik                                    1 = sangat kurang
4 = baik                                   2 = kurang baik
IDE
ORIGINALITAS
WAKTU PEMBUATAN x 3
BIAYA
EKSPEKTASI
JUMLAH SKOR
PRODUK RUMAH COKLAT
4
4
3
4
23
BUAT FILM PENDEK
3
2
4
3
16
BUAT DRAMA
2
3
2
4
17
Dari tabel tersebut, didapat hasil skor tertinggi ada pada produk “rumah coklat”
5.      Pelaksanaan atau implementasi
Tahap pelaksanaan atau implementasi merupakan tahap terakhir dalam proses pemecahan masalah secara kreatif, yang nanti akan dilaksanakan setelah UTS.

B.            KONSEP PERFORMA
Pada awalnya kelompok kami tidak mendapatkan ide yang cukup “wow” untuk memenuhi tugas performa ini. Ide dari setiap anggota bermuculan. Kebingungan ini mengarahkan kami kepada proses pemecahan masalah. Melalui tahapan proses pemecahan masalah akhirnya kami menemukan solusi. Berdasarkan keputusan bersama akhirnya kami memutuskan menampilkan performa membuat “miniatur rumah coklat” yang sebelumnya produk tersebut sudah kami buat terlebih dahulu di rumah, kemudian saat presentasi kami menampilkan hasil “miniatur rumah coklat” di depan kelas, diikuti dengan demo singkat, video pembuatan, dan bagi-bagi coklat kepada audience.
Memasuki performa penampilan di depan kelas, perencanaan awal adalah pembagian tugas anggota yang berjumlah lima orang. Salah satu anggota kelompok terlebih dahulu menjelaskan tentang teori 4P dan teori pemecahan masalah Shallcross. Selesai penjelasan, dua di antara anggota yang tersisa kemudian melakukan demo pembuatan produk di depan kelas. Salah satu anggota terlebih dahulu menyiapkan meja dan perlengkapan untuk demo di depan kelas. Sembari demo, diputar juga video pembuatan “miniatur rumah coklat”. Kemudian pada akhir demo, beberapa anggota membagikan hasil produk yang telah jadi kepada audience.

C.           ALAT DAN BAHAN
Bahan:
ü  Coklat batang: dark coklat 1 kg dan lemon coklat 125 gram
ü  Biskuit marie susu 3 bks besar
ü  Cha-cha secukupnya
ü  Air untuk menge-tim coklat
ü  Wafer
ü  Biskuit kopi
Alat :
ü  Heater                                             
ü  Loyang
ü  Pisau
ü  Plastik
ü  Mangkuk aluminium
ü  Karton
ü  Kertas manila
ü  Selotip
D.           CARA PEMBUATAN
1.      Memastikan alat dan bahan sudah lengkap
2.      Memanaskan air dalam heater, sementara air dipanaskan coklat dipotong kecil agar lebih mudah meleleh dan letakkan di wadah aluminium.
3.      Haluskan biskuit sebagai campuran coklat.
4.      Setelah air mulai mendidih buka tutup heater kemudian letakkan wadah berisi potongan coklat diatasnya (di tim)
5.      Aduk coklat agar meleleh dengan sempurna.
6.      Setelah meleleh, campurkan biskuit yang sudah dihaluskan kedalam coklat dan aduk merata.
7.      Tuangkan adonan coklat dan biskuit kedalam loyang dan dibentuk lempengan tipis.
8.      Masukkan loyang kedalam lemari pendingin
9.      Setelah adonan mengeras, keluarkan dari lemari pendingin dan biarkan terbuka beberapa menit agar lebih mudah ketika dipotong.
10.  Potong coklat biskuit sesuai dengan ukuran dan bentuk rumah yang diinginkan seperti dinding dan atap.
11.  Satukan potongan  coklat biskuit pembentuk rumah dengan coklat yang sudah di tim sebagai perekatnya, kemudian tunggu beberapa menit sampai benar-benar rekat.
12.  Setelah tergabung semua, lapisi kembali coklat biskuit yang sudah berbentuk rumah dengan coklat yang sudah di tim.
13.  Kemudian tim coklat lemon sebagai hiasan rumah, atap, dan pintu. Tempelkan juga cha-cha dengan coklat sebagai hiasan rumah.
14.  Setelah semua tergabung, masukkan kembali rumah coklat kedalam lemari pendingin agar pereketnya semakin kokoh.
15.  Siapkan karton yang sudah dilapisi kertas manila sebagai landasan rumah coklat.
16.  Susun roti diatas karton sabagai tanah untuk rumah coklat.
17.  Susun wafer membentuk pagar.
18.  Kemudian Letakkan rumah coklat landasan tersebut

E.            TANTANGAN
Tantangan merupakan bagian-bagian yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan performa produk “miniatur rumah coklat” agar hasilnya maksimal dan sesuai yang di-harapkan. Tantangan dalam membuat produk “miniatur rumah coklat” ini antara lain:
·         Waktu pembuatan
Rumah coklat harus dalam keadaan fresh. Jika dibuat terlalu cepat, kami takut rumah coklat tidak fresh lagi. Jika dibuat dekat-dekat waktu yang ditentukan, kami takut tidak dapat menyelesaikannya dengan maksimal.
·         Tempat Pembuatan
Tempat pembuatan juga menghadirkan dilema. Untuk menentukan di mana kami akan membuat rumah coklat, kami sangat bingung karena empat orang dari kelompok kami merupakan anak kos yang tidak memiliki lemari es, karena dalam membuat “miniatur rumah coklat” memerlukan lemari es sebagai alat pembuatannya. Ada satu orang yang tidak kos namun rumahnya terlalu jauh untuk dijangkau. Kami berpikir untuk membuatnya di kampus, tetapi kampus juga tidak ada lemari es. Oleh karena itu, kami harus meminta bantuan pada seorang teman sekelas kami yang rumahnya cukup dapat dijangkau dari kampus dan memiliki lemari es.
·      Alat dan Bahan
Ada beberapa alat yang ternyata anggota kelompok tidak memilikinya. Sehingga kami berusaha untuk meminjam dari teman-teman sekelas.
·      Proses Pembuatan
Karena hanya salah seorang dari anggota kami yang sudah pernah membuat “miniatur rumah coklat” sebelumnya, maka performa ini menghadirkan tantangan bagi anggota kelompok lain yang belum pernah membuatnya.

F.            Proses yang terjadi selama pembuatan
Setelah ditentukan bahwa performa kelompok kami akan dilakukan pada tanggal 04 desember 2014, seminggu sebelumnya kami telah melakukan diskusi untuk menentukan pada hari apa kami akan membuatnya. Kami harus menyesuaikan waktu pembuatan dengan jadwal kuliah, dan kami juga harus menyesuaikan waktu tersebut dengan waktu mengerjakan tugas-tugas kuliah yang harus dikumpul minggu itu juga. Dan akhirnya kami mendapatkan waktu yang tepat yaitu pada hari selasa tanggal 02 desember 2014. Setelah menetukan hari apa kami akan membuatnya, kami juga harus menentukan pada pukul berapa kami akan mulai membuatnya. Akhirnya kami sepakat bahwa kami akan memulainya pada pukul 09.00 WIB dan berkumpul di kampus pada pukul 07.30 WIB. Pembuatan produk dilakukan di rumah salah seorang teman sekelas kami, bernama Hotma, karena rumahnya cukup dapat dijangkau dari kampus dan memiliki lemari es. Setelah kami berbicara dengannya, akhirnya dia mengizin-kan kami untuk mengerjakan produk kami di rumahnya.
Awal proses pembuatan yaitu memotong balok coklat pada ukuran kecil. Hal ini dilakukan agar coklat lebih cepat dilelehkan (ditim). Pelelehan coklat memerlukan waktu lima belas menit. Selama proses pelelehan coklat, ada anggota yang menghaluskan biskuit dan ada yang memotong-motong coklat. Penghalusan biskuit membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Dibutuhkan kesabaran selama proses penghalusan untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Setelah biskuit halus kemudian dicampurkan dalam coklat yang masih ditim sembari diaduk rata. Setelah diaduk rata, maka masukkan ke dalam cetakan. Ratakan adonan sampai seluruh permukaan loyang tertutupi, kemudian masukkan ke dalam lemari es. Dalam meratakan adonan, diperlukan keuletan tangan dan kesabaran, jika tidak permukaan adonan bisa jadi tidak rata. Pendinginan dilakukan agar coklat kembali keras dan dapat dipotong sesuai bentuk yang diharapkan. Proses pendinginan membutuhkan waktu sekitar lima menit.
Setelah dingin, coklat dikeluarkan dari cetakan. Namun coklat tidak dapat langsung dipotong, sebab jika dipotong maka coklat dapat mudah hancur karena masih dalam kondisi sangat padat dan beku. Coklat harus ditunggu sampai sesuai dengan suhu ruangan kemudian dapat dipotong sesuai bentuk yang diharapkan. Pemotongan coklat juga tidak dapat dilakukan dengan mudah. Diperlukan kemampuan motorik halus yang baik agar coklat tidak patah saat dipotong.
Setelah coklat dipotong sesuai bentuk yang diharapkan, kemudian potongan coklat disatukan sesuai pola yang ingin dibuat yaitu balok coklat. Perlu ketelitian agar coklat dapat merekat dengan baik dan tidak ada retak pada coklat untuk menjaga hasil yang diharapkan. Setelah direkatkan dan pola terbentuk, kemudian masukkan kembali ke dalam lemari es agar kondisi bangunan yang terbentuk tetap stabil. Proses ini juga berlaku dalam pembuatan atap maupun gedung atau pola-pola lainnya. Setelah semua bangunan cokelat telah selesai, maka finishing menjadi penutup dalam membuat produk “miniatur rumah coklat”. Di sini kami menggunakan coklat cha-cha dan coklat lemon yang dicairkan untuk menghiasnya. Diperlukan keuletan dalam menghias bangunan coklat ini agar tampak rapi dan indah.

G.           Kendala yang Dihadapi
·         Waktu Pembuatan
Kami telah menentukan bahwa kami akan berkumpul di kampus pada jam 07.30 WIB. Namun beberapa orang ada yang tidak datang tepat waktu karena kendala saat di perjalanan. Kami menunggu teman-teman hingga pukul 08.30 WIB. Satu orang dari anggota memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Hotma karena jarak rumahnya cukup dekat.
Kami memperkirakan bahwa kami akan menyelesaikan rumah coklat tersebut sebelum pukul 13.00 (estimasi waktu pengerjaan sekitar 4 jam pembuatan), namun kenyataannya tidak bisa. Padahal kami ada jadwal kuliah pada pukul 13.00 WIB. Setelah berunding kami bersepakat untuk tidak datang kuliah pada hari itu. Kebetulan kami semua belum pernah mengambil jatah absen pada mata kuliah tersebut. Produk akhirnya dapat terselesaikan pada pukul 15.00 dengan waktu pengerjaan sekitar 6 jam (telat 2 jam dari estimasi waktu yang ditentukan)
·         Alat dan Bahan
Sehari sebelum pembuatan kami telah membagi tugas untuk membawa alat yang diperlukan, namun pada hari tersebut kami lupa unutk membawa mangkuk alumunium. Akhirnya kami harus kembali ke salah satu kos teman kami untuk mengambil mangkuk alumunium tersebut.         
Ketika kami tiba di rumah Hotma ternyata salah satu teman kami yang membawa bahan-bahan terlambat datang. Jadi, kami harus menunggunnya sekitar 30 menit. Kami tidak dapat melanjutkan proses pembuatan karena bahan yang dibawanya (biskuit) harus digunakan bersamaan dengan coklat yang telah dilelehkan. Kami juga lupa membeli beberapa bahan seperti white coklat, wafer dan biskuit.
·         Proses Pembuatan
Dalam proses pembuatan kami mengalami banyak kendala, ternyata gambaran yang telah kami buat tidak semudah yang kami bayangkan. Kami memiliki kesulitan saat memotong coklat, karena coklat yang telah didinginkan harus didiamkan di suhu ruangan terlebih dahulu untuk mempermudah proses pemotongan. Kami tidak sabar, dan kami mencoba unutk memotonbg coklat tersebut. Awalnya pemotongan berjalan dengan lanjar, namun pada saat potongan kedua, coklat tersebut retak. Untuk mengatasi keretakan tersebut kami menyambungkan kembali dengan menggunkakan coklat cair. Kami mengalami beberapa kali kegagalan dalam pemotongan coklat tersebut.
Setelah beberapa bagian coklat telah terbentuk kami mulai membentuk coklat tersebut menjadi bentuk kubus. Ini merupakan tahap yang sangat sulit. Untuk menyatukan lempengan coklat tersebut diperlukan kesabaran dan ketelitian yang sangat tinggi. Beberapa kali coklat yang telah kami susun retak dan kami harus menempel coklat tersebut. Setelah beberapa menit membuatnya akhirnya kami menyelesaikan satu bentuk kubus, yang akan kami pasang lempengan coklat yang berbentuk atap. Namun ketika mengangkat coklat yang telah berbentuk kubus tersebut kami kurang hati-hati dan kubus coklat tersebut patah menjadi beberapa bagian. Kami tidak patah semangat. Kami tetap berusaha untuk menyatukan patahan-patahan coklat dengan penuh hati-hati. Dengan usaha, kesabaran dan ketelitian kami mampu memperbaikinya.
·         Performa
Di pagi saat kami akan menampilkan produk, kami juga masih menghadapi kendala. Pada pukul 07.30 anggota kelompok kami belum lengkap dan rumah coklat yang kami buat juga belum ada di kelas. Kami sangat takut, kami pun menelpon teman kami, ternyata Ia masih di jalan.
Beberapa saat kemudian kami menerima kabar dari teman kami bahwa dia lupa untuk membuat alas berupa karton sebagai dasar dari rumah coklat kami. Akhirnya pada pukul 07.50 kami memutuskan untuk membelinya di daerah sekitar kampus. Pada hari itu, hari sedang gerimis yang membuat kami kesulitan untuk mencari toko yang telah buka. Akhirnya kami memperolehnya, kami segera kembali ke kelas.

H.           Kritik dan Saran
Roni Pradana Syahputra
Menurut sdr.Roni rumah coklat yang telah kami buat sudah cukup menarik dan baik, namun penggunaan wafer sebagai pagar terlalu berlebihan karena tanpa pagar yang tersebut rumah coklat kami lebih menarik.
Ibu Filia Dina Anggaraeni
·         Pengaturan waktu saat performa
Menurut Bu Dina kami tidak dapat mengatur waktu ketika melakukan penampilan, ini disebabkan karena kami tidak mempersiapkan segala alat yang dibutuhkan. Ini menyebabkan para audiens menunggu lama untuk menyaksikan penampilan kami. Ini juga disebabkan karena kami melakukan demo bagaimana cara mencairkan coklat dan bagaimana kami menyusun rumah coklat tersebut.
·         Dinamika
Dalam blog yang telah kami posting, kami tidak melampirkan bagaimana dinamika yang terjadi ketika kami membuat produk kami. Seharusnya kami membuat dinamika tersebut, agar ketika membaca konsep performa kami, orang-orang mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi ketika proses pembuatan terjadi.
·         Proses Pembuatan
Di dalam blog kami juga tidak melampirkan bagaimana proses pembuatan rumah coklat. Seharusnya kami menuliskan bagaimana cara-cara pembuatan rumah coklat tersebut. Mulai dari alat dan bahan, serta bagaimana proses pembuatannya.

I.              PEMBAGIAN TUGAS
Praproduksi :
·         Pembuatan Konsep
-          Seluruh Anggota kelompok 3
·         Pembelian Bahan
-          Dinda Sundari
-          Syafira Hairy Sani
·         Penyediaan Alat
-          Seluruh anggota kelompok 3
Produksi :
·         Pembuatan Produk
-          Seluruh anggota kelompok 3
·         Dokumentasi
-          Syafira Hairy Sani
-          Arifa Ulia Bahri
-          Dinda Sundari
·         Presentasi Teori
-          Alifia Ridha Pratiwi
·         Demo Pembuatan
-          Ilmi Khoir Purba
-          Arifa Ulia Bahri
-          Syafira Hairy Sani
·         Perlengkapan Demo Pembuatan
-          Dinda Sundari
·         Pembagian Produk
-          Ilmi Khoir Purba
-          Dinda Sundari
Pasca Produksi :
·         Pembuatan Laporan Evaluasi
-          Seluruh anggota kelompok 3
Movie by: Alifia Ridha Pratiwi

J.             TAKSASI DANA
BAHAN
HARGA
Dark chocolate
Rp     45.000
Lemon chocolate
Rp     18.000
Biskuit marie susu
Rp     24.000
Cha-cha
Rp       5.000
Wafer
Rp     12.000
Biskuit kopi
Rp       6.000
Karton
Rp       3.000
Kertas manila
Rp       2.000
selotip
Rp       2.000
Plastik
Rp          500
jumlah
Rp   128.000